MARS Investasi Rp50 M Bangun Pusat Penelitian Kakao di Pangkep

MARS Investasi Rp50 M Bangun Pusat Penelitian Kakao di Pangkep

MAKASSAR, TOTALBISNIS.COM — Wakil Presiden Republik Indonesia, HM Jusuf Kalla (JK) menegaskan program Gerakan Nasional (Gernas) Kakao tetap berlangsung. Meski secara nasional telah terjadi penurunan produksi kakao, namun aktivitas ekspor tetap dilakukan.

Dimana, dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2017, pemerintah mengelontorkan anggaran sebesar Rp2,4 triliun khusus untuk pengadaan bibit bagi program Gernas Kakao.

“Kita tetap lanjutkan program Gernas kakao itu, dengan memberikan bibit kepada masyarakat dan memperbaiki sistemnya,” tegas JK saat melakukan peletakan batu pertama Pusat Penelitian dan Pengembangan Kakao PT Mars Symbioscience Indonesia, di Kelurahan Attang Salo, Kecamatan Ma’rang, Kabupaten Pangkep, Sabtu (18/11/17).

Menurut JK, sebenarnya aktivitas pengembangan kakao saat ini tidak hanya dilakukan oleh sektor swasta, tetapi juga dilakukan pemerintah pada program bidang pertanian. “Ada juga pabrik untuk mengimpor. Yang jelas setelah penerapan kebijakan pajak ekspor biji kakao keluar, pabrik pengolahannya tumbuh,” terangnya.

Sebab itu, JK optimis, jika produksi kakao akan kembali pada angka 900 ribu ton per tahun, meski saat ini menurun pada angka 700 ribu ton. “Memang butuh waktu untuk meningkatkan kembali. Tapi jika hilirisasi kan sebenarnya sudah cukup. Di Sulawesi ada dua pabrik, di sini dan di Kendari, Sulawesi Tenggara, yang malah kekurangan bahan,” pungkasnya.

Dibangunnya Pusat Penelitian Kakao di Pangkep tersebut akan memperluas jaringan komoditas kakao Mars ke lima lokasi secara global selain Brasil, Ekuador dan Amerika Serikat.

Investasi yang digelontorkan untuk membangun Pusat Penelitian Kakao tersebut sebesar USD 4 juta atau setara Rp50 miliar dan menempati area seluas 95,2 hektare. Fasilitas ini dibangun Mars dengan tujuan genetika kakao yang unggul dan tahan hama. Target 10 tahun kedepan, Mars ingin majukan petani dengan memperbanyak produksi kakao yang saat ini menghasilkan kurang dari 1 ton/Ha, dan secara global lebih dari 3 ton/Ha.

Frank Mars, Board of Directors of Mars. Inc mengatakan, Kakao begitu penting untuk membangun kesejahteraan petani. Dikarenakan, tanaman yang juga disebut sebagai biji cokelat ini telah membuka lapangan kerja bagi lebih dari 65 juta keluarga petani di seluruh Afrika, Amerika Selatan dan Asia Tenggara.

Namun, akhir-akhir ini, 40% produksi kakao menurun karena serangan hama, penyakit dan praktik pertanian yang kurang tepat. Jika Mars dan seluruh pemain industri tidak segera mengembangkan pertanian kakao dan membuka lapangan kerja bagi petani, maka tidak akan ada petani yang ingin menanam kakao dan pada akhirnya kakao akan punah.

Khusus di Indonesia, menurut Organisasi Kakao Internasional, produksi kakao di bumi nusantara itu telah menurun 47% selama tujuh tahun terakhir menjadi sekitar 90.000 MT untuk musim panen 2016/17. Hal ini disebabkan oleh kondisi pohon yang tua, tanah yang tidak subur, serangan hama dan penyakit, hingga harga yang fluktuatif serta perubahan iklim. Atas dasar ini, pembangunan Pusat Penelitian Kakao perlu dilakulan. (uo)